Thursday, September 29, 2016

Merekonstruksi Definisi 'Keren' Melalui Pembangunan

Galau tidak hanya identik dengan sepasang muda mudi yang sedang saling menjalin kasih, melainkan juga bisa menjangkiti para sarjana yang baru memasuki dunia paska kampus. Meskipun banyak alternatif pilihan hidup yang bisa dilakukan setelah paska kampus, mayoritas para sarjana (atau paling tidak yang saat ini sering penulis jumpai) memilih untuk melakukan hal-hal yang akan penulis bahas pada tulisan kali ini.
Para sarjana yang semasa mahasiswa/i adalah ‘kura-kura’ alias ‘kuliah rapat – kuliah rapat’ alias aktivis, mungkin akan bercita-cita tinggi untuk membangun sebuah daerah, khususnya daerah yang merupakan kampung halamannya.
Para sarjana yang semasa mahasiswanya adalah ‘kupu-kupu’ alias ‘kuliah pulang – kuliah pulang’ mungkin akan berencana untuk melanjutkan kuliah master atau berkecimpung di dunia industri, bekerja untuk sebuah perusahaan, atau bahkan merintis usaha sebagai pengusaha.
Baik sang mantan aktivis ataupun sang mantan akademisi, semua akan mulai membangun, baik itu membangun sebuah daerah atau perusahaan tempatnya bekerja.

Mereka seolah sedang berlomba untuk menjadi ‘keren’. Paling tidak, mereka berusaha agar tidak harus menanggung malu jika reuni alumni itu diadakan. Melihat realita ini, ada beberapa pertanyaan yang menghantui penulis: bagi para sarjana hari ini, ‘keren’ itu apa dan ‘keren’ itu untuk siapa?
Para Sarjana Berburu Kerja

Definisi ‘Keren’ Sang Sarjana
Bagi para sarjana hari ini, ‘keren’ nampak cenderung didefinisikan sebagai sebuah pencapaian dan kesuksesan dengan uang yang berlimpah. Untuk menjadi ‘keren’ dan mendapatkan uang tersebut, para sarjana mayoritas memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan. Hal ini bisa kita lihat dari ramainya para sarjana yang berburu jobfair untuk melamar pekerjaan.
Ketika mereka berhasil bekerja di sebuah perusahaan atau ketika mereka menjadi seorang pengusaha, pada umumnya, mereka menjadi akan berpihak pada setiap kebijakan perusahaan. Jika seorang sarjana bekerja di perusahaan semen, mereka akan berpihak pada pembangunan pabrik semen dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kebijakan perusahaan semen tersebut. Begitu juga halnya jika sang sarjana bekerja di perkebunan sawit, perusahaan tambang, dll.
Mereka akan mulai mendapat doktrinisasi dari berbagai pihak bahwa kebijakan perusahaan harus dipertahankan. Tidak jarang, mereka juga mulai mempercayai bahwa pembangunan itu semata-mata perlu berpihak pada industrialisasi. Mereka akan mulai berpacu untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan.

Sayangnya, ketika hal itu terjadi, mereka juga akan mulai abai dengan kondisi lain di sekitarnya, termasuk kondisi sosial dan ekologis dari dampak pembangunan yang mereka lakukan. Perlahan tapi pasti, para sarjana akan mulai melupakan idealisme yang selalu mereka banggakan saat mereka duduk di bangku perkuliahan.

Pembangunan untuk Siapa?
Sebagai contoh adalah kehadiran para sarjana pada pembangunan pabrik semen yang sudah berjalan 70% di salah titik di Pulau Jawa. Pembangunan pabrik semen terus dilakukan, padahal Pulau Jawa tidak lagi layak sebagai wilayah untuk penambangan. Daya dukung Pulau Jawa sudah sangat terbatas dan padat oleh penduduk.

Pembangunan pabrik semen akan menambang batu gamping di pegunungan karst, serta mengancam ketahanan pangan dan ketersediaan air yang telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Artinya, mata air yang biasa digunakan para petani untuk mengairi sawahnya akan terancam dan hampir pasti akan berubah menjadi air mata bagi para petani.
Uang kompensasi sifatnya hanya sementara, tidak akan cukup untuk waktu lama. Para petani akan kehilangan pekerjaan. Pembangunan pabrik biasanya akan disertai dengan iming-iming lapangan pekerjaan. Namun, jika petani hanya tamatan SD atau bahkan tidak tamat SD, maka pekerjaan apa yang ditawarkan perusahan untuk para petani tersebut. Mereka hanya akan menjadi buruh dan tidak lagi berdaulat di atas tanahnya sendiri.
Dalam hal ini, pembangunan tidak hanya menyebabkan dampak ekologi, tetapi juga menyebabkan dampak sosial bagi masyarakat di sekitarnya.
Mirisnya, ada banyak sarjana, master, doktor, bahkan hingga profesor membela pembangunan dengan dampak ekologi dan sosial ini. Mereka bersedia membuka mulut dan mengeluarkan sejuta teori untuk membela pembangunan pabrik, tapi mereka telah menutup hati untuk merasakan dan mengetahui kondisi sebenarnya. Kondisi sebenarnya yang telah menyingkirkan dan merampas ruang hidup masyarakat kecil.
Apakah ‘keren’ yang telah mengikis rasa kemanusiaan ini yang dibanggakan oleh para sarjana hingga profesor itu hari ini? Apakah pembangunan itu harus abai pada rakyat kecil? Lantas, pembangunan itu untuk siapa? Apakah hanya untuk masyarakat yang punya uang saja?
Contoh lain adalah beberapa pekan lalu, penulis kaget melihat teman penulis yang baru pulang dari Aceh. Dua minggu di Aceh, dia pulang dengan wajah yang penuh jerawat dan kulit yang memerah, gatal, dan berbintik. Dia menuturkan bahwa satu-satunya sumber air, yaitu sungai di daerah tempatnya tinggal di Aceh saat itu, telah terpapar merkuri, yang merupakan limbah dari aktivitas pertambangan salah satu perusahaan perminyakan asing terbesar di dunia yang beroperasi di Aceh, Indonesia.
Unjukrasa yang dilakukan Warga Desa Nibong Baroh,
Kecamatan Nibong, Aceh Utara, kepada perusahaan tambang

Penulis tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak, yang setiap hari hidup di sana. Mereka melakukan mandi, cuci, kakus di sungai itu.
Neraka seolah telah mereka rasakan di dunia. Air susu atas kesediaan untuk dijajah telah berubah menjadi air yang penuh merkuri. Dan lagi-lagi di balik itu semua, ada banyak sarjana yang berpihak pada perusahaan tersebut. Pemerintah, yang juga sarjana, pun tak luput dari dosa itu. Tanpa peduli kenyataan yang sebenarnya, semua yang dilakukan oleh perusahaan adalah baik bagi mereka.
Apakah sebegitu terkikisnya rasa kemanusiaan kita setelah memasuki kehidupan paska kampus?Dear para sarjana, apakah ‘keren’ seperti itu yang diinginkan? Kita bisa saja disebut ‘keren’ karena berlimpah uang dari perusahaan tambang, tapi yang sebenarnya terjadi adalah mata hati kita telah tertutup untuk tahu mana yang benar dan mana yang tidak.
Para akademisi berkacamata kuda, tidak mampu melihat disekitarnya dengan baik. Para pengusaha serakah, bekerja sama dengan pemerintah yang tak tau arah. Kondisi itu lah yang membuat Indonesia hari ini menjadi kian parah.
‘Keren’ untuk Siapa?
Bagi penulis, ‘keren’ yang kaya raya atau berprestasi untuk dirinya sendiri itu tidak keren. Segala hal yang kita perbuat untuk kepentingan diri kita sendiri itu tidak ‘keren’ dan tidak spesial karena semua orang pasti akan melakukan sesuatu untuk mempertahankan hidupnya. Seseorang baru bisa disebut ‘keren’, bukan karena mementingkan dirinya sendiri, tapi jika dia mendatangkan manfaat dan menebar kebaikan untuk orang lain.
Sang sarjana boleh saja menjadi pengusaha atau bekerja untuk perusahaan, tapi mereka tidak boleh abai dan menutup mata terhadap kondisi ekologi, sosial, dan kemanusiaan di sekitarnya. Mereka boleh saja tidak lagi seideal yang dulu, tapi mereka tetap harus jujur mengikuti hati nuraninya.
Mereka boleh saja bercita-cita membangun, tapi pembangunan harus adil, tidak hanya untuk yang punya harta dan tahta saja. Jika ada pembangunan yang melenceng dari yang semestinya, maka sifat kritis tidak boleh terkikis. Jika ada ketidakadilan di depan mata, maka rasa kemanusiaan itu harus tetap ada.
Mereka boleh saja disebut ‘keren’ karena kaya raya dan melanjutkan studi ke keluar negeri, dan lain-lain. Namun ‘keren’ yang seperti itu adalah ‘keren’ di mata dunia saja, tapi belum tentu di mata Tuhan.
Kita kaya raya tapi mengeksploitasi bawahan kita, kita mendapat keuntungan di saat orang menderita, kita melanjutkan studi tapi tidak menggunakan ilmu itu untuk kebaikan banyak orang, apakah ‘keren’ seperti itu yang Tuhan inginkan?
Semua akan hilang ketika kita mati. Semua, dari mulai ilmu hingga harta,  akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan. Di hadapan Tuhan, kita tidak lagi bisa mangkir dengan berbagai teori sok pintar seperti yang selama ini  mungkin pernah kita lakukan.
Dear para sarjana, baik yang baru saja lulus maupun yang sudah bertahun-tahun silam, jadi ‘keren’ seperti apa yang seharusnya kita pilih?


"Earth provides enough to satisfy every man's need, but not every man's greed" 

(bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tapi tidak untuk mereka yang serakah)
-Mahatma Gandhi-


"Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat"
-Nabi Muhammad-




Referensi:

Sumber gambar:


Wednesday, September 14, 2016

Pemimpin Muda Daerah: Solusi atau Repetisi?

Semakin hari semakin banyak pemimpin muda daerah bermunculan di kancah politik Indonesia. Hadirnya pemimpin-pemimpin muda daerah diharapkan dapat menjadi solusi atas kejenuhan masyarakat terhadap minimnya perubahan yang dihadirkan oleh pemimpin-pemimpin berusia tua yang pernah menjabat sebelumnya. Namun, hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan: apakah memang benar pemimpin muda daerah menjadi solusi atau justru hanya sekedar menjadi repetisi (pengulangan) dari apa yang telah dilakukan generasi terdahulu?

Rekam Jejak Para Pemimpin Muda Daerah
 
Bagi penulis, permasalahannya bukan terletak pada usia, tetapi pada gagasan apa yang dibawa. Tua belum tentu lapuk dan muda belum tentu segar. Beberapa pemimpin muda memang membawa ide-ide baru yang segar, tapi dalam praktiknya, tidak sedikit dari pemimpin muda tersebut yang hanya meneruskan apa yang telah dilakukan pemimpin-pemimpin sebelumnya di masa lampau.


Pola Pikir Top Down

Salah satu contoh repetisi yang dilakukan para pemimpin muda baru daerah adalah pola pikir top down (dari atas ke bawah). Tidak jarang para pemimpin muda daerah kurang lebih berkata, "...saya mempunyai/ memberikan program bla bla bla...”. Dari pernyataan tersebut, para pemimpin muda daerah seolah sudah menyiapkan berbagai program untuk diberikan kepada masyarakat. Usia para pemimpin ini mungkin memang masih muda, tapi kebanggaan pemimpin muda atas pernyataan bahwa mereka sudah menyiapkan berbagai program untuk masyarakat itu terdengar sangat tua. Menurut hemat penulis, pernyataan tersebut terdengar tidak muda dan tidak segar, melainkan tak ubahnya nampak hanya akan melanjutkan apa yang generasi tua telah lakukan, yaitu menempatkan masyarakat sebagai objek pembangunan, bukan subjek pembangunan. Masyarakat ditempatkan bukan sebagai pelaku aktif (subjek) pembangunan yang berdaulat ataupun terlibat dalam proses pengambilan keputusan untuk diri mereka sendiri, tetapi hanya sebagai penerima pasif (objek) program-program pemerintah yang mayoritas bersifat seolah “paling tahu” segala-galanya yang terbaik untuk masyarakat, padahal dalam hal ini yang paling tahu yang terbaik sebenarnya adalah masyarakat itu sendiri. Dengan pola pikir demikian, masyarakat seolah ditempatkan tidak berdaya dan hal tersebut bisa jadi memicu semakin kronisnya kemiskinan struktural, khususnya di pedesaan Indonesia.

Pemimpin daerah, tua atau muda, seharusnya bukan sekedar menyiapkan program untuk masyarakat, melainkan menyiapkan program bersama masyakarat, memberikan alternatif pilihan, pengetahuan, dan penyadaran kritis sehingga masyarakat menjadi pelaku aktif pembangunan yang berdaulat atas hak-hak mereka sendiri. Pemimpin daerah tidak boleh menganggap masyarakatnya bodoh, melainkan masyarakat itu pintar dan masyarakat mempunyai potensi yang bisa dan perlu dikembangkan. Tugas pemimpin daerah adalah memantik atau memfasilitasi bagaimana potensi tersebut semakin berkembang dan membuat masyarakat semakin berdaulat.


Visi Misi Dari dan Untuk Siapa?

Penulis sempat menyaksikan salah satu Gubernur di Indonesia menyampaikan visi misinya, yaitu "mendatangkan investor untuk membangun bla bla bla".  Mendengar hal itu, langsung berkecemuk kembali berbagai pertanyaan di benak penulis. Siapakah yang akan diuntungkan atas kebijakan tersebut? Apakah kebijakan tersebut akan menguntungkan masyarakat? Jika iya, masyarakat mana yang akan diuntungkan? Apakah masyarakat kelas atas atau kelas bawah yang semakin termarginalkan? Apakah kebijakan tersebut justru semakin menguntungkan investor dan semakin menyebabkan ketimpangan di daerah? Apakah visi misi para pemimpin muda ini berangkat dari masyarakat, benar kebutuhan masyarakat, atau dari otak penguasa dan pengusaha saja yang sifatnya top down? Praktiknya, kebijakan mendatangkan investor lagi-lagi merupakan repetisi dari kebijakan terdahulu yang mayoritas hanya akan menguntungkan pemerintah dan pengusaha, sedangkan masyarakat yang paling miskin di daerah tidak merasakan dampaknya.  Lapangan pekerjaan dari hadirnya investor biasanya akan diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai ijazah D3 ke atas, sehingga masyarakat miskin yang tidak berpendidikan tinggi harus gigit jari atas nasibnya yang semakin dipinggirkan.


Pilih Gagasan Segar, Bukan Gagasan Repetisi

Tahun depan adalah tahun pertarungan politik dan gagasan para pemimpin daerah. Kabupaten Bekasi sebagai daerah tempat tinggal penulis juga akan melaksanakan pemilihan kepala daerah pada tahun 2017. Sebagai pemudi, penulis sangat mendukung jika ada pemuda/i yang ingin unjuk gigi dan berprestasi dalam membawa perubahan di Indonesia umumnya, dan di Bekasi khususnya.  Namun, perlu diingat bahwa usia muda juga perlu diimbangi dengan pemikiran dan gagasan yang muda dan segar, bukan yang merepetisi, meniru atau seolah sekedar meneruskan apa yang generasi usia tua telah lakukan. Bagaimanapun, dengan minimnya pengetahuan dan segala kesangsian penulis di tulisan ini, penulis masih menaruh harapan pada para pemimpin muda daerah yang akan berkompetisi. Segala bentuk sinisme dan kesangsian pasti akan terbayar dan terpatahkan dengan kerja, pembuktian, dan prestasi nyata dari para pemimpin daerah. Waktu akan membuktikan. Selamat memilih dan semoga bisa memilih yang membawa keselamatan dan kemaslahatan bagi daerah!





kata kunci: Pemimpin Ideal Untuk Daerah
sumber gambar: http://news.liputan6.com/read/2471153/rekam-jejak-kepala-daerah-muda-di-indonesia