Wednesday, October 11, 2017

Mencari Laptop yang Pas: ASUS VivoBook S (S510)

Saya bukan Tatjana Shapira atau Sheryl Sheinafia, tapi teman-teman menjuluki saya sebagai Duta ASUS. Julukan tersebut dilekatkan kepada saya, tentu bukan karena saya mirip kedua artis tersebut. Alih-alih mirip Tatjana Shapira atau Sheryl Sheinafia yang merupakan Brand Ambassador dari salah satu produk ASUS, saya lebih mirip Tukul Arwana versi perempuan. Julukan ‘Duta Asus’ dilekatkan kepada saya, tidak lain dan tidak bukan, karena saya memang pengguna ASUS sejati. Dari mulai handphone sampai laptop, saya menggunakan ASUS.

Brand favorit akuu ~

Di samping itu, saya dan teman-teman mempunyai hobi menyombongkan diri. Kami hampir sering menyombongkan apa yang kami pakai. Tapi jangan salah sangka dan salah paham, menyombongkan versi kami bukan berlebih-lebihan atau memamerkan apa yang kami punya. Kami tidak pernah menyombongkan sesuatu karena harganya. Sombong versi kami adalah mempertahankan argumen bahwa apa yang kami pakai memang sesuai dengan kebutuhan kami, sehingga hal itu tidak akan menjadi sesuatu yang mubazir.

Hobi kami menyombongkan diri ini diawali karena kami melihat ada beberapa teman kami yang senantiasa membeli gadget dengan harga fantastis, hanya karena sekedar mengikuti tren kekinian saja. Kami kadang merasa fitur-fitur dalam gadget tersebut tidak sebanding dengan harganya atau tidak sesuai dengan kebutuhan kami sesungguhnya. Lebih sering, ketimbang terlihat seperti menyombongkan diri, kami justru lebih nampak seperti sedang mempromosikan gadget yang kami pakai. Kami seolah menjadi seperti Brand Ambassador, ahli penjualan atau sales yang sedang mempromosikan barang dagangannya. Mungkin, kalau ada kontes Sales Promotion Girl (SPG), kami akan memenangkannya daripada mereka yang berprofesi sebagai SPG itu sendiri.

Sebagai ‘Duta Asus’ versi kroco, ilegal, dan abal-abal di kantor saya, saya cukup sering menyombongkan dan mempromosikan ASUS. Puncak kesuksesan saya sebagai Duta Asus di kantor adalah ketika saya berhasil mengajak sekitar 15 rekan peneliti lain untuk menggunakan ASUS sebagai laptop mereka. Untuk ukuran peneliti, bagi saya laptop ASUS sangat menunjang segala kebutuhan. Jika saya ditugaskan untuk meneliti masyarakat di daerah-daerah pedalaman, maka saya juga sangat terbantu oleh laptop ASUS yang cenderung tipis dan ringan, sehingga tidak akan menambah beban bawaan dan perbekalan saya yang notabene sudah sangat berat dan banyak. Jika ditugaskan di daerah yang minim listrik, saya juga terbantu dengan baterainya cenderung awet.

Sesungguhnya, saya memang tidak begitu mengerti tentang laptop dsj, sehingga saya sempat menggunakan laptop merek lain sebelumnya. Namun di perjalanannya, laptop saya yang sebelumnya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memproses hasil video editing untuk film dokumenter perjalanan penelitian saya. Berbeda dengan laptop ASUS yang sudah membersamai saya selama kurang lebih lima tahun, waktu yang dibutuhkan oleh laptop ASUS untuk memproses tergolong cepat. Dari segi harga, laptop ASUS juga cenderung terjangkau dan relevan dengan berbagai performa dan spesifikasi yang ditawarkan.

Saya semakin mantap menggunakan laptop ASUS ketika saya mengetahui bahwa ASUS juga selalu melakukan inovasi pada produknya. Yang berhasil mencuri perhatian saya akhir-akhir ini adalah inovasi ASUS yang dituangkan dalam laptoASUS VivoBook S S510UQ. Saya menyukai laptop yang berlayar lebar, namun efisien dalam segi ruang, sehingga saya bisa tetap mudah membawanya saat penelitian. Nah, ASUS VivoBook S S510UQ ini memiliki panel layar 15,6" Full HD tapi dapat masuk ke dalam bingkai laptop khas ukuran 14 inci, sehingga efisien dalam segi ruang.

ASUS VivoBook S (S510): Mudah dan Efisien untuk Dibawa

Selain itu, ASUS VivoBook S S510UQ juga didukung oleh prosesor Intel® Core™ i5 terbaru, dengan RAM 4GB DDR4 2133MH, grafis NVIDIA® GeForce® 940MX, dan ultra-fast dual-band 802.11ac Wi-Fi. Duhai makhluk awam, pasti Anda ngga ngerti kan artinya? Sama, saya juga ngga tahu artinya....... sebelumnya. Tapi sekarang, setelah bertahun-tahun menggunakan ASUS dan mencari tahu tentang spesifikasi laptop, saya pastikan bahwa artinya, ASUS VivoBook S (S510) ini mampu menghadirkan visual ultra halus, pengalaman bermain yang hebat, dan kecepatan yang memukau. Sungguh sangat mendukung bagi saya yang sering membuat film atau video dokumenter penelitian.

Siapa sih yang gak naksir kalau luaran sama dalemannya cakep kayak gini?!

Untuk port atau slot atau mungkin bahasa makhluk awamnya adalah colokan, ASUS VivoBook S S510UQ dengan desain any-way-up membuat perangkat penghubung menjadi sederhana dan cepat. USB 3.1 juga memberikan kecepatan transfer data hingga 5x lebih cepat dari koneksi USB 2.0 lama. Selain itu, laptop ini juga dilengkapi dengan port USB 3.1, slot kartu HDMI dan slot SD card tentunya mendukung kompatibilitas tanpa kerumitan dengan berbagai macam periferal, display dan proyektor. Intinya mah, colokannya lengkap dengan kualitas yang memukau.

Last but not least yang saya bahas dan juga paling sering ditanyakan adalah soal harga. ASUS VivoBook S S510UQ berkisar pada harga Rp 9.799.000. Percayalah, harga tersebut sangat worth it dengan performa dan spesifikasi yang ditawarkan, dan masih jauh lebih murah dibandingkan harga laptop merek lain dengan spesifikasi serupa.

Hal-hal di atas, yang sudah saya sebutkan itulah yang membuat saya jatuh cinta pada ASUS. Sungguh, walaupun saya sering promosi, tapi tulisan ini hadir bukan dalam rangka promosi, melainkan hanya sekedar berbagi pengalaman dan kebahagiaan atas apa yang saya alami bertahun-tahun bersama ASUS. Semoga saya bisa lebih lama lagi berjodoh dengan ASUS, dan semoga ada rejeki lebih untuk merasakan secara langsung ASUS VivoBook S S510UQ yang sedang saya taksir beraat. Tentunya, bukan untuk disombongkan dalam artian yang negatif, melainkan memberi kita kesadaran bahwa kita perlu menempatkan segala hal sesuai kebutuhan, porsi, dan tempatnya. Seperti ASUS VivoBook S S510UQ yang harganya terjangkau namun juga mampu mencakup segala kebutuhan, sehingga pas pada harganya, pas pada porsinya, pas pada kebutuhannya.



Referensi:

Monday, September 4, 2017

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2

Film-film karya Anggy Umbara memang selalu saya nantikan, termasuk Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 ini. Saya cukup mengikuti karya-karya Anggy Umbara, dan saya merasa kualitas film-nya sungguh terus berkembang dari film pertama-nya yang saya lihat, yaitu Mama Cake. Jadi kalau ada film yang di-sutradarai beliau, hampir pasti akan saya tonton (dengan catatan, jika ada uang buat nonton wkwk).

sumber gambar: https://www.bioskoptoday.com/film/warkop-dki-reborn-jangkrik-boss-part-2/


Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 bagi saya pecah banget sehingga tidak heran jika banyak orang yang bersedia mengeluarkan kocek lebih untuk menontonnya berulang kali. Sekedar mengingatkan, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 bercerita tiga orang chips, yaitu Dono (diperankan oleh Abimana), Kasino (diperankan oleh Vino G. Bastian), dan Indro (diperankan oleh Tora Sudiro), yang harus mengganti rugi kerusakan pada Galeri pelukis terkenal karena kelalaian mereka bertiga dalam bertugas.

Nah, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 ini bercerita tentang tiga chips tersebut yang berusaha mencari harta karun untuk melunaskan hutang/ ganti rugi mereka. Karena penasaran akan kelanjutannya (dan penasaran apakah part selanjutnya se-pecah Part 1), saya sudah bertekad untuk menonton Part 2 dengan segera begitu film ini keluar. Alhamdulillah kesampaian! Walaupun bukan nonton premiere-nya, saya cukup bahagia bisa mendapatkan tiket (apalagi dapat promo dari Go-Tix powered by Gojek) pada hari pertama penayangannya.

Akan tetapi, kebahagiaan saya ternyata sifatnya hanya sementara, sampai saya benar-benar menonton filmnya. Pada film-film serial, part sebelumnya biasanya lebih bagus daripada part setelahnya. Kekhawatian saya tersebut akhirnya terjadi. Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2, bagi saya, masih lucu tapi tidak selucu dan sepecah Part 1. Selain itu, Part 2 ini juga terlalu absurd -  walaupun saya meyakini ada maksud tertentu di dalamnya, misalnya untuk tribute pada film-film Warkop terdahulu seperti film Chips, IQ Jongkok, dan Setan Kredit. Melalui film ini, saya juga jadi ter-flash back dengan film-film populer Indonesia di tahun 90-an. Sayangnya, niat baik untuk mengingatkan penonton dengan film-film Warkop dan film-film era 90-an terkesan terlalu memaksakan karena alur cerita dijahit dengan terlalu random, absurd, atau kurang rapi, setidaknya tidak serapi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1. Atau film ini memang sengaja dibuat Anggy Umbara sebagai film komedi absurd sehingga lucu dengan banyak hal yang tidak masuk akal di dalamnya.

Kekecewaan saya sedikit terobati pada bagian-bagian terakhir film, tepatnya saat behind the scene proses pembuatan film, yang justru sangat kocak. Overall, walaupun sesungguhnya saya sedikit kecewa, tapi saya tetap menyukai karya-karya Anggy Umbara. Sebelumnya, saya pernah menonton film komedi Indonesia yang bukan karya Anggi Umbara dan itu jauh lebih absurd dan tidak lucu, sehingga saya tetap akan merekomendasikan teman-teman untuk tetap menonton Warkop DKI Reborn: jangkrik Boss Part 2 ini (dengan catatan, silakan menonton tanpa ekspektasi dan siapkan ruang untuk sedikit kecewa)!

Fyi, beberapa orang justru berpendapat bahwa Part 2 ini lebih lucu daripada Part 1, tapi demikianlah kesan saya terhadap film ini.  Berbeda pendapat itu biasa toh?

Bintang dari saya untuk film ini (rentang 1 - 5) adalah 3. 

Selamat menonton!