Monday, April 10, 2017

Siska Erma Lia: Berusaha Di Atas Rata-Rata

Bodoh adalah julukan yang pernah didapatkannya saat Ia menempuh pendidikan Sekolah Dasar. Namun hal tersebut justru menjadikannya cambukan semangat untuk menjadi pribadi yang terus berkembang dan menginspirasi bagi orang banyak.

oleh Triana Winni
ditulis di Bogor, November 2014.


Foto Siska Erma Lia
Siska Erma Lia


Anak yang Tertinggal

Hanya butuh waktu dua menit bagi seorang Siska Erma Lia untuk mengubah seluruh hidupnya hingga saat ini. Dalam dua menit yang menjadi titik balik tersebut, wanita yang bercita-cita menjadi CD Worker (CommunityDevelopment Worker) ini menyadari ketidakadilan yang terjadi di lingkungan sekolahnya pada saat Ia menempuh pendidikan SD (Sekolah Dasar).

Ketidakpuasan atas nepotisme seorang guru dengan anak murid yang juga merupakan anak guru tersebut, membuat wanita kelahiran Pati, 25 November 1993 ini ingin membuktikan bahwa Ia bisa berjaya dengan kemampuannya sendiri tanpa ikut terjerembab dalam praktik nepotisme yang terjadi. Tidak mudah bagi Siska untuk membuktikan hal tersebut. Ia sempat diremehkan dan mendapat julukan ‘bodoh’ dari teman-teman di sekolahnya karena mengalami banyak ketertinggalan dalam bidang akademik. Namun melalui kerja kerasnya serta dibantu oleh Budhe dan suntikan semangat dari Ibu tercinta, Siska yang hingga kelas tiga SD selalu berada pada peringkat-peringkat terbawah, mulai merangkak naik menuju peringkat sepuluh besar saat kelas empat SD. Pun, ketika meraih peringkat-peringkat teratas, Siska mendapat cobaan, yakni difitnah oleh teman-teman dan gurunya bahwa yang dikerjakan Siska bukanlah hasil dari dirinya sendiri melainkan hasil pekerjaan orang lain.

Sedih menyelimuti diri Siska dan dalam hati Siska berikrar bahwa suatu hari nanti Ia akan berhasil membuktikan. Puncaknya, Siska berhasil membuktikannya dengan menjadi salah satu Lulusan Terbaik di SD Gabus 04, Pati, Jawa Tengah. Selain peran ibu yang begitu besar,“berusaha di atas rata-rata adalah kuncinya,” tutur wanita yang hobi memasak ini.


Keterpurukan Ekonomi Keluarga

Tidak cukup sampai dihina dan difitnah, menjelang kelulusan SD, Siska kecil kembali mendapat cobaan. Wanita yang merupakan anak terakhir dari dua bersaudara ini, mengalami keterpurukan ekonomi keluarga yang cukup drastis karena kemerosotan usaha ayahnya yang gagal bersaing dengan tumbuhnya usaha-usaha baru di sekitarnya. Hal ini juga berdampak pada pendidikannya yang terancam, bahkan untuk keperluan makan saja, Siska sekeluarga harus mengutang ke tetangga. Beruntung mempunyai orang tua yang sadar pendidikan, orang tuanya terus mengupayakan pendidikannya walau harus gali lubang tutup lubang. Pendidikan dianggap sebagai kunci untuk keluar dari jurang kemiskinan.


Bangkit dari Keterpurukan

“Manusia itu hidup harus berjuang!” merupakan prinsip dari gadis berusia 20 tahun ini. Dahsyatnya tempaan dan berbagai ujian hidup yang Siska jalani merupakan proses-proses kehidupan yang mendewasakan Siska. Berawal dari rasa tidak sukanya terhadap nepotisme di sekolahnya, Siska yang kini menempuh pendidikan S1 di Institut Pertanian Bogor, tumbuh menjadi aktivis kampus dan aktif dalam beberapa organisasi kampus, di antara yang pernah diikutinya adalah BEM KM IPB (Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Institut Pertanian Bogor), IPS (IPB Political School), BEM FEMA IPB (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor), Bina Desa IPB, dll.

Selain itu, sebagai bagian dari Kementerian Kebijakan Kampus BEM KM IPB 2013, Siska juga sempat aktif membantu para mahasiswa baru yang juga mengalami keterpurukan ekonomi seperti dirinya agar dapat melanjutkan studi di IPB. Siska tidak mau apa yang pernah dialaminya, juga dialami oleh orang lain. Siska adalah sosok wanita muda yang percaya bahwa proses berbanding lurus dengan hasil dan Siska telah membuktikan keberhasilannya untuk bangkit dari keterpurukan yang sempat dihadapinya.

Tak lupa, keberhasilannya juga disebabkan oleh adanya peran ibu dan orang-orang terdekatnya yang selalu mendukung Siska dalam menghadapi kondisi sulitnya. Siska telah membuktikan bahwa di balik kesulitan yang Ia hadapi, terdapat berbagai kebaikan yang kini Ia dapatkan. Bahwa yang perlu dilakukan untuk berhasil adalah “berusaha di atas rata-rata”.

Monday, April 3, 2017

Tentang Afifah Taqiyyah

Kadang saya merasa suara tawa anak-anak adalah terapi atau obat. Tawa yang begitu jujur, tulus, lepas, dan tanpa beban. Berbeda dengan suara tawa orang dewasa yang ada kalanya penuh kamuflase dan dibuat-buat: bisa hanya untuk menyenangkan lawan bicara, hanya ikut-ikutan tertawa agar dianggap mengerti apa yang dibicarakan, dan lain-lain.

Namun, ada satu orang dewasa yang saya suka sekali mendengar tawanya. Dialah Afifah Taqiyyah. Tawanya begitu renyah dan lepas. Mendengar tawanya seperti memberikan energi positif tersendiri. Suaranya begitu merdu - ngga kalah sama para kontestan Indonesian Idol. Siapapun yang jadi suaminya nanti, pasti adalah orang yang beruntung karena bisa dengar suara merdu Afifah setiap hari. Ucapannya jujur, tau diri tanpa menyakiti. Kalau suka bilang suka, ngga suka bilang ngga suka, lucu bilang lucu, garing bilang garing.

Winni dan Afifah

Wajahnya cerah, ngga ngebosenin buat dilihat. Senyumnya manis. Pribadinya terbuka, hangat, ramah, dan selalu on time. Beneran deh, on time banget. Saya benar-benar belajar menghargai waktu dari Afifah, mulai dari bangun pagi sebelum adzan, ngaji, berangkat beraktivitas semuanya on time. Tak heran - dengan karakter-karakter baik seperti yang saya sebutkan tersebut - Afifah kemudian dicintai dan punya buanyak teman.

Saya dan teman-teman satu geng (cieilah, anak geng 😝) sempat berpikir bahwa di antara kami berlima, Afifah adalah pribadi yang hidupnya paling sempurna. Keluarga yang hangat, banyak sahabat yang menyayangi, kehidupan organisasi yang mengesankan, kehidupan akademik yang mulus, kehidupan percintaan yang sederhana tapi romantis, pekerjaan yang menyenangkan, adalah hal-hal baik yang kami lihat ada di Afifah. Instagram Afifah pun hampir banyak penuh dengan kesyukuran Afifah atas hidup yang Ia miliki.

Hingga tiba saat saya akhirnya bertemu dengan Afifah kemarin (31 Maret 2017), Afifah menceritakan beberapa dinamika dalam hidupnya saat ini yang tidak pernah saya sangka-sangka. Dari situ saya belajar, bahwa memang tidak pernah ada hidup yang benar-benar sempurna. Termasuk pada kehidupan setiap orang yang nampak sempurna di penglihatan kita. Setiap makhluk hidup yang disayang Allah pasti diberikan masalah sebagai penyeimbang dan pengingat.

Afifah, di tengah gejolak kehidupan kita hari ini, terima kasih banyak masih sempatkan waktu untuk silaturahmi dan tertawa bersama kemarin. Alhamdulillah, bahagia bisa dengar tawa itu lagi. Terima kasih juga untuk semangat, dukungan, dan kepercayaannya pada saya - semoga bisa saya jaga. Terima kasih pernah sudi sekamar dengan pribadi yang super random dan rancu ini. Terima kasih untuk banyak hal yang saya ngga bisa sebutin satu per saya ya Fah 😇.

Pasti dosa dan salahku banyak padamu. Maafin ya Fah 😢. Maaf juga karena aku ngga tau bisa bantu apa buat dinamika hidup kamu hari ini, tapi satu yang pasti: wajah Afifah adalah salah satu wajah teman baik yang aku bayangkan dalam doa usai sholat. Bukan agar kita berjodoh (karena aku masih ingin berjodoh sama laki-laki 😛), tapi agar hidup kita senantiasa dikaruniai keberkahan, kelancaran, dan kemudahan. Semoga segala persoalan dalam segera terselesaikan. Semoga doa-doa itulah yang mendekatkan kita, di tengah minimnya kesempatan bersua.

Kamu sudah berharap bahwa akan ada tulisan seperti ini untukmu ya Fah? Hehe, maaf jika aku belum bisa menuliskannya dengan baik sesuai ekspektasimu, hanya saja memang itu yang kurasa. Semoga Allah pertemukan kita lagi dalam kondisi yang lebih baik ya Fah. See you Fah! 


"One of the most beautiful qualities of true friendship is
to understand and to be understood."
- Lucius Annaeus Seneca -


#thankyoumoment #daretodeclare #gratitude #temanmurni #sampai jannah