Wednesday, March 29, 2017

Napak Tilas: Jasa Perahu Penyebrangan "Getek" Bekasi

Hallo semua!


Selamat menempuh tahun 2017! hahaha telat banget ya? Maaf ya hehe, semoga yang memaafkan dan membaca posting ini dikaruniakan kesehatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kesuksesan di tahun ini! Hahaha-aamiin! 😛

Katanya, jika kita mau maju atau berkembang, kita tidak boleh melupakan sejarah. Oleh karena itu -karena saya berharap tahun ini saya menjadi pribadi yang lebih berkembang, lebih maju, dan lebih baik dari sebelumnya-, saya ingin membuka posting tahun 2017 ini dengan napak tilas ke salah satu tempat bersejarah dalam hidup saya hehe. Tempat bersejarah apa itu?

Bagi yang tinggal di Bekasi Utara (khususnya di sekitar Babelan, Wisma Asri, Duta Harapan, Prima Harapan, dan sekitarnya) dan bersekolah di Bekasi Timur (khususnya SMPN 1 Bekasi, SMPN 3 Bekasi, SMPN 18 Bekasi, SMAN 1 Bekasi, dan sekitarnya) pasti tidak asing lagi dengan tempat ini: perahu penyebrangan "getek" di Sungai Candrabhaga Bekasi.

Jarak antara rumah saya yaitu di Wisma Asri, dengan sekolah yaitu SMP dan SMA Negeri 1 Bekasi sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun menjadi jauh dikarenakan saya harus memutar jalan karena Bekasi Utara dan Bekasi Timur dipisahkan dengan Sungai Candrabhaga tersebut. Dengan adanya jasa perahu penyebrangan "getek" di Sungai Candrabhaga, saya bisa menghemat jarak dan waktu tempuh. Waktu tempuh normal dengan kendaraan bermotor sekitar 30 - 60 menit, karena jalanan cukup padat dan selalu macet setiap pagi. Dengan menggunakan "getek", waktu tempuh hanya 20 menit saja. Selain itu, ongkosnya juga sangat murah, yaitu hanya 1.000 rupiah (terakhir kali saya naik ya). 

Sebenarnya jika merujuk KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), "getek" itu sama dengan rakit, sedangkan rakit sendiri adalah susunan benda yang mengapung yang datar untuk perjalanan di atas air; dan merupakan rancangan perahu paling dasar, yang cirinya tak memiliki lambung. Ketimbang mirip rakit, "getek" yang dimaksud di sini cenderung berbentuk seperti perahu pada gambar di bawah ini.


yang pernah saya naikin ngga sebagus ini sih,
tapi mirip: ada atap dan ada tali untuk ditarik sang penarik "getek"

Meskipun begitu tetap saja, para penarik perahu ataupun para pengguna jasa ini menyebutnya dengan istilah "getek". Siapa sangka di Kota Metropolitan (cieilah, pret 😛) seperti Bekasi, masih terdapat jasa transportasi seperti ini. Ternyata jasa "getek" ini bukan hanya ada di satu titik, melainkan di beberapa titik di Kota Bekasi lho. Lebih lengkap, bisa dilihat di referensi yang saya sertakan di bawah tulisan ini.

Untuk menuju "getek", kita harus melewati gang kecil (mirip gang kelinci khas ibukota) dan rumah-rumah penduduk. Tidak banyak yang berubah dari gang kelinci tersebut. Penduduknya masih khas dengan keramaiannya. Toko jajanan anak sekolah yang biasa jual teh sisri, pop ice, chiki, dsj. masih ada di dalam gang. Suara ayam dan kambing masih bersahutan. Bau badan dan kotoran si ayam dan kambing juga masih menusuk. Kuburan di jalanan pinggir sungai menuju "getek" juga masih ada. Jalan aspal setapak yang dibuat khusus untuk para pengguna "getek" juga masih cenderung bagus, tapi "getek" yang berjasa....... sudah tidak ada lagi.


Gang Menuju "Getek"

Jalan Menuju "Getek"

Selain "getek" yang sudah tidak ada, DAS (Daerah Aliran Sungai) Candrabhaga ini juga semakin dipenuhi sampah. Menurut saya, bahkan lebih parah daripada 6 tahun yang lalu. Kabarnya "getek" ini berhenti beroperasi sejak banjir besar melanda, sungainya meluap parah, dan menyebrang dengan "getek" sangat membahayakan. "Getek" semakin hilang ketika banyak alternatif transportasi lain (seperti transportasi online, jemputan sekolah, dll.) muncul.


Sampah Everywhere

Sebelum napak tilas ini, saya sudah menduga bahwa "getek" sepertinya sudah tidak ada lagi. Mungkin memang sudah saatnya "getek" tutup usia, sudah bukan jamannya lagi. Meskipun sudah ngga ada -saya ngga tau di tempat lain "getek" masih eksis atau tidak-, "getek" yang hadir di tengah kota saat itu sungguh memberi kesan dan memori tersendiri tentang perjuangan saya dalam menuntut ilmu. Saya memang bukan pengguna setia "getek" karena kadang saya juga suka diantar atau naik naik ojek, tapi saya pernah jadi pengguna (terutama kalau uang jajan lagi tipis) dan kemungkinan besar, saya akan menceritakan ini ke anak cucu saya nanti: bahwasanya naik "getek" adalah bagian dari perjuangan saya dan teman-teman saya saat itu dalam menuntut ilmu.

Sekian napak tilas saya kali ini. Sesungguhnya saya menuliskan tulisan ini sambil senyum-senyum hehe. Memang, mengingat atau mengenang segala perjuangan kita, baik dalam menuntut ilmu, bekerja, atau dinamika kehidupan lain, kadang bikin kita suka senyum-senyum sendiri, hehe. Mungkin ini membuktikan bahwa seberat apapun perjuangannya, insyaAllah bakal berakhir dengan senyuman. Semua berakhir menjadi kenangan yang kita ingat dengan tersenyum. Kalau belum berakhir dengan senyuman, berarti mungkin perjuangannya belum berakhir.

Ayo kita tetap semangat dalam segala perjuangan kita yang belum berakhir!
Mari kembali menutupnya dengan senyuman! Aamiin. 


"Everything will be okay in the end. If it is not okay, it is not the end."



Referensi:
http://photo.liputan6.com/news/perahu-eretan-masih-jadi-sarana-transportasi-pilihan-warga-bekasi-2282749?page=2
http://www.republika.co.id/berita/inpicture/jabotabek-inpicture/16/09/18/odpgzt314-getek-kapal-ferry-tradisional-penyambung-mobilitas-warga-2