Monday, September 4, 2017

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2

Film-film karya Anggy Umbara memang selalu saya nantikan, termasuk Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 ini. Saya cukup mengikuti karya-karya Anggy Umbara, dan saya merasa kualitas film-nya sungguh terus berkembang dari film pertama-nya yang saya lihat, yaitu Mama Cake. Jadi kalau ada film yang di-sutradarai beliau, hampir pasti akan saya tonton (dengan catatan, jika ada uang buat nonton wkwk).

sumber gambar: https://www.bioskoptoday.com/film/warkop-dki-reborn-jangkrik-boss-part-2/


Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 bagi saya pecah banget sehingga tidak heran jika banyak orang yang bersedia mengeluarkan kocek lebih untuk menontonnya berulang kali. Sekedar mengingatkan, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 bercerita tiga orang chips, yaitu Dono (diperankan oleh Abimana), Kasino (diperankan oleh Vino G. Bastian), dan Indro (diperankan oleh Tora Sudiro), yang harus mengganti rugi kerusakan pada Galeri pelukis terkenal karena kelalaian mereka bertiga dalam bertugas.

Nah, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 ini bercerita tentang tiga chips tersebut yang berusaha mencari harta karun untuk melunaskan hutang/ ganti rugi mereka. Karena penasaran akan kelanjutannya (dan penasaran apakah part selanjutnya se-pecah Part 1), saya sudah bertekad untuk menonton Part 2 dengan segera begitu film ini keluar. Alhamdulillah kesampaian! Walaupun bukan nonton premiere-nya, saya cukup bahagia bisa mendapatkan tiket (apalagi dapat promo dari Go-Tix powered by Gojek) pada hari pertama penayangannya.

Akan tetapi, kebahagiaan saya ternyata sifatnya hanya sementara, sampai saya benar-benar menonton filmnya. Pada film-film serial, part sebelumnya biasanya lebih bagus daripada part setelahnya. Kekhawatian saya tersebut akhirnya terjadi. Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2, bagi saya, masih lucu tapi tidak selucu dan sepecah Part 1. Selain itu, Part 2 ini juga terlalu absurd -  walaupun saya meyakini ada maksud tertentu di dalamnya, misalnya untuk tribute pada film-film Warkop terdahulu seperti film Chips, IQ Jongkok, dan Setan Kredit. Melalui film ini, saya juga jadi ter-flash back dengan film-film populer Indonesia di tahun 90-an. Sayangnya, niat baik untuk mengingatkan penonton dengan film-film Warkop dan film-film era 90-an terkesan terlalu memaksakan karena alur cerita dijahit dengan terlalu random, absurd, atau kurang rapi, setidaknya tidak serapi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1. Atau film ini memang sengaja dibuat Anggy Umbara sebagai film komedi absurd sehingga lucu dengan banyak hal yang tidak masuk akal di dalamnya.

Kekecewaan saya sedikit terobati pada bagian-bagian terakhir film, tepatnya saat behind the scene proses pembuatan film, yang justru sangat kocak. Overall, walaupun sesungguhnya saya sedikit kecewa, tapi saya tetap menyukai karya-karya Anggy Umbara. Sebelumnya, saya pernah menonton film komedi Indonesia yang bukan karya Anggi Umbara dan itu jauh lebih absurd dan tidak lucu, sehingga saya tetap akan merekomendasikan teman-teman untuk tetap menonton Warkop DKI Reborn: jangkrik Boss Part 2 ini (dengan catatan, silakan menonton tanpa ekspektasi dan siapkan ruang untuk sedikit kecewa)!

Fyi, beberapa orang justru berpendapat bahwa Part 2 ini lebih lucu daripada Part 1, tapi demikianlah kesan saya terhadap film ini.  Berbeda pendapat itu biasa toh?

Bintang dari saya untuk film ini (rentang 1 - 5) adalah 3. 

Selamat menonton!

Wednesday, August 30, 2017

Doa dan Mendoakan

Halo. Nama saya Winni dan selamat datang di Opini Winni. Blog ini saya perbaharui, postingan-postingan lama saya tarik semuanya tanpa terkecuali. Hal ini saya lakukan karena saya ingin memulai hidup yang baru memasuki bulan September ini. Lebih jelas apa-apa saja yang akan dibahas di Blog ini, silakan lihat di "Tentang Penulis" pada kolom bukan sebelah kiri. (cieee, ujungnya "i" semua haha)

Memasuki September, saya sempat takjub ketika mendengar kabar dari teman-teman saya, yang hampir banyak membawa kabar bahagia. Mungkin tulisan ini akan terlihat seperti over pede, narsis, atau ge-er, tapi memang yang membuat saya takjub adalah: semua teman yang membawa kabar bahagia tersebut adalah mereka yang pernah saya sebut dalam doa saya.

Terakhir saya bertemu mereka, mereka datang dengan mengeluh dan membawa kabar-kabar yang tidak baik di hidup mereka. Tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan, selain mendengarkan cerita mereka dan ikut mendoakan untuk kebaikannya. Jadilah ketika sholat, tidak lupa saya bercerita kepada Allah tentang apa yang saya alami hari itu dan kondisi teman saya yang perlu Allah bantu.

Saya yakin kabar-kabar bahagia yang mereka bawa bukan semata-mata karena doa saya, tetapi juga karena besarnya ikhtiar yang mereka lakukan. Tapi saya sungguh senang karena saya juga merasa berkontribusi dalam kebahagiaan di hidup mereka, walau hanya sekedar dengan pernah ikut mendoakannya.

Saya berikan salah satu contoh kabar bahagia dari teman saya berikut ini. Terakhir bertemu, teman saya bercerita tentang sulitnya mendapatkan restu untuk menikah dikarenakan kakak pertama-nya belum menikah. Keluarganya adalah penganut budaya Jawa kental yang pantang untuk seseorang menikah jika kakak atau saudara kandung yang lebih tua darinya belum menikah.

Setelah mendengar dan mendoakan, saya memberikan masukan kepada teman saya tersebut. Baik yang sifatnya nasihat ngawang-ngawang seperti "sabar yaa" (saya benci sekali sebenarnya dengan nasihat kayak gitu, tapi toh itu kadang juga perlu dilakukan), sampai dengan nasihat kongkrit seperti menyarankan teman saya untuk mengajak kakaknya mencoba mencari kenalan baru melalui aplikasi atau situs biro jodoh. Aplikasi biro jodoh yang saya sarankan saat itu adalah setipe.com karena saya ingat pernah ngobrol dengan teman saya yang lain tentang kesuksesan beberapa orang yang berjodoh melalui aplikasi tersebut.

Dan you know what? Belakangan, masih di tahun 2017, kakaknya telah melangsungkan lamaran atau pertunangan dan sedang merencanakan pernikahan dengan seseorang yang dikenalnya melalui aplikasi yang saya sarankan tersebut! Wow, it works, dude!



Ketika mendoakan orang lain, bukan berarti saya sedang berada dalam kondisi yang sangat baik dan tidak mendoakan diri saya sendiri. Tentu saja, saya juga berdoa untuk kebaikan diri saya, apalagi kondisi saya saat ini sedang tidak baik. Ketika Allah sudah memberikan cahaya terang pada teman-teman saya, Allah masih menginginkan saya untuk bersabar, terus berikhtiar, dan berdoa agar cahaya terang atas gelapnya persoalan-persoalan hidup yang sedang saya alami, juga segera datang.

Tapi saya percaya untuk kesulitan-kesulitan hidup yang pernah dan sedang saya alami, doa-doa orang tersayang di sekitar saya lah yang membuat saya mampu bertahan. Memang, bisa jadi orang yang saya doakan belum tentu adalah orang yang mendoakan saya. Tapi bagi saya, doa-mendoakan ini bukan perkara timbal balik atau untung rugi. Saya percaya bahwa ketika kita mendoakan orang lain, kita sedang berterapi untuk membawa aura positif dan kebaikan di hidup kita sendiri. Katanya, doa seperti cermin: cahaya dalam doa akan memantul kembali pada yang mendoakan.

Lagipula, terlepas dari "doa akan kembali pada yang mendoakan", apakah tidak egois jika kita - sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan selalu hidup berdampingan - hanya memikirkan dan mendoakan diri kita sendiri saja? Berapa banyak dari kita yang ingin didoakan tapi lupa dan jarang mendoakan? Saya rasa ngga akan ada ruginya jika kita menyebut dan mendoakan orang lain dalam doa dan sholat kita. Toh, kita atau mungkin saya saja yang merasa bahwa saya tidak sedang berkompetisi dengan orang lain di hidup ini. Ketika seseorang meraih "A", bukan berarti saya juga harus meraih "A". Ketika seseorang meraihnya kemarin, bukan berarti kemarin adalah waktu yang tepat untuk saya. Dll. Bagi saya, kompetisi itu memang kadangkala ada dalam hidup tapi hidup itu sendiri bukan kompetisi.

Sekarang, saya hanya ingin merengkuh rasa damai di hati sambil berusaha mencari jalan agar bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, bukan bagi diri sendiri saja.


sumber gambar: http://www.febrinastevani.com/2015/01/usaha-doa.html

Mari saling mendoakan dalam kebaikan!